Soal Etika Berjualan, Bukan Penipuan

Ketika kenyataan tidak sesuai harapan, wajarlah lahir kekecewaan. Termasuk dalam urusan mendapatkan buku. Ceritanya, saya memesan buku pada awal Agustus 2024 silam lewat chat di Facebook. Penjual menawarkan sejumlah judul buku dengan harga paket, jadi tentulah lebih murah dengan syarat saya langsung mentransfer setelah menyepakati pengiriman dan ongkir.

Baca buku itu seru, apalagi sekalian jualan!

Penjual lantas menjanjikan untuk mengirimkan buku yang saya pesan esok hari, yaitu Sabtu. Ternyata pengiriman batal dilakukan karena satu dan lain hal. Hingga beberapa hari, paket belum juga dikirim sebab rupanya seller terkena musibah. Neneknya berpulang sehingga dia mesti mudik ke kampung halaman.

Kami terus berkontak tentang update pengiriman. Saya tidak menganggap masalah atas delay alias penundaan pengiriman lantaran seller terkendala biaya untuk balik ke kota tempat dia berjualan buku. Saya memaklumi agar dia punya biaya balik dan mengirimkan buku pesanan saya.

Singkat cerita, hampir setiap bulan saya tanyakan kabar, tentunya secara baik-baik karena saya pun sebenarnya seller buku meskipun amatiran. Komunikasi masih lancar walau pengiriman kian terulur.

Sebagai informasi, buku-buku yang saya pesan memang sebagian untuk dijual kembali, lumayan buat menopang kebutuhan. Sebagian didonasikan, dan sebagian lagi dibaca sendiri termasuk Muhammad karya Karen Amstrong dan buku Cak Nur dalam paket tersebut.

Dibatalkan sepihak

Long story short, kami bercakap lagi lewat messenger Facebook pada awal Maret 2025 atau lebih dari satu semester sejak saya mengorder. Posisi seller sudah di kota dan buku siap dikirim. Saya gembira tentu saja sebab akhirnya bisa baca buku-buku yang saya incar. 

Namun tak lama berselang, seller mendadak bertanya apakah saya tetap menghendaki buku pesanan ataukah saya mau duit dikembalikan. Alasan seller, ada buku yang grepes akibat dimakan rayap sebab mungkin lama tersimpan selama 8 bulan.

Saya jawab agar ia tetap mengirimkan buku pesanan, tak peduli kondisi buku seperti apa. Seller sempat mengirim foto satu judul buku yang digigit rayap. Saya bersikeras memilih pengiriman, bukan pengembalian dana. 

Anehnya, seller mendadak mengirimkan dana ke rekening saya dalam jumlah tepat seperti yang pernah saya bayarkan. Utuh termasuk ongkir.

Saya sungguh heran mengapa dia begitu keukeuh memilih refund padahal saya tak masalah dengan kondisi buku dan waktu penantian yang sangat lama. Waktu saya chat lagi di FB Messenger, pesan saya terpental karena saya rupanya diblokir. Sungguh sangat disayangkan mengapa harus berakhir demikian.

Saya sudah sabar menunggu lama, ingin membaca buku tertentu—termasuk jujur ya jual sebagian demi dapur berkepul. Kalaupun tidak jadi dijual, ya akun saya tidak perlu diblokir. Pembatalan transaksi itu biasa, yang penting saling ridha. Batal jual-beli bukan lantas jadi musuh sampai dilakukan pemblokiran seolah tak ingin transaksi dengan saya lagi.

Saya jadi bergumam, apakah buku-buku itu hendak dijual ke orang lain dengan harga lebih tinggi mengingat saat ditawarkan ke saya Agustus 2024 memang lumayan terjangkau? Ya sudahlah, memang belum rezeki.

Saya enggan menyebut nama seller sebab ini memang bukan penipuan. Dia mengembalikan uang saya utuh seperti yang saya bayarkan. Namun sejatinya saya jelas dirugikan karena melalui waktu tunggu yang lama dan berakhir kekecewaan. 

Foto iklan penjual yang saya pesan di Facebook

Cuma secara etika, menurut saya tindakannya tidak elok. Sudah sepakat jual beli, mengapa tiba-tiba dibatalkan sepihak padahal saya tidak keberatan dengan kondisi buku? Saya jadi berasumsi dia mendapatkan pembeli yang lebih kakap, entahlah.

Saya tuliskan di blog sebagai bahan pelajaran bagi kita semua agar saling enak baik sebagai penjual maupun pembeli. Salam buku, salam literasi! Butuh buku bekas? Carilah Kedai Rumi di Facebook atau Saung Rumi di Instagram. 

Post a Comment

0 Comments