[Resensi] Transformational Leadership: Konsep, Pendekatan, dan Implikasi pada Pembangunan

Judul buku: Transformational Leadership: Konsep, Pendekatan, dan Implikasi pada Pembangunan
Penulis: Solikin M. Juhro, et al
Penerbit: Bank Indonesia Institute
Tahun terbit: 2020
Tebal: 289 halaman
ISBN




SUATU PAGI Alvian meminta izin dari atasannya untuk datang terlambat sebab perlu mengantarkan istrinya memeriksakan kehamilan anak pertama. Mengingat Alvian adalah seorang supervisor, tentunya manajer tak akan berkeberatan. Toh ia tetap akan datang hari itu, hanya tertunda agak siang. 

Meskipun izin diberikan, Alvian tersinggung oleh komentar manajer tersebut. Ia dikritik karena repot-repot menemani sang istri padahal ia mestinya bisa periksa kehamilan sendiri sehingga Alvian tak perlu izin terlambat. Mungkin sadar punya bos yang toksik, Alvian pun memutuskan resign setelah mengabdi di perusahaan itu selama sepuluh tahun padahal kariernya terbilang moncer. 

Bahaya pemimpin bias gender

Manajer tempat ia bekerja memang terkenal tega—untuk tidak menyebut sadis. Karyawan wanita kerap dianggap kurang produktif lantaran punya cuti melahirkan atau cuti haid padahal keduanya dijamin dalam PKB (Perjanjian Kerja Bersama). Sifat seksisnya terlihat dari sepenggal fragmen yang tak mungkin terhapus dari memori kolektif pegawai. 

Manajer disinyalir tidak objektif saat merekrut asisten supervisor sebuah divisi. Seorang kandidat perempuan dimentahkan dari posisi tersebut hanya karena statusnya sebagai janda pascamengggugat cerai suaminya atas tindakan KDRT. Walaupun setiap pekerjaan kandidat ini selalu tuntas bahkan sebelum tenggat dengan mutu tepat, rupanya bias gender telah menyesatkan pikiran manajer dengan meragukan kemampuan dan (terutama) kepemimpinan wanita. 

Jika banyak pemimpin dengan pola pikir picik bercokol di ranah pemerintahan atau koporat seperti halnya yang Alvian alami, maka risikonya mengerikan. Bukan hanya kesehatan mental individu yang terancam, tapi iklim pekerjaan yang toksik akan melumpuhkan potensi perusahaan atau organisasi apa pun dalam beradaptasi dengan perubahan zaman. Dalam konteks inilah dibutuhkan pemimpin besar untuk mengendalikan kemudi organisasi agar sukses melalui turbulensi dan era yang tidak menentu seperti saat ini.

Kepemimpinan transformasional menjawab tantangan

Narasi pemimpin besar semakin relevan di tengah kontestasi politik Tanah Air, yakni pemilihan presiden yang akan dihelat tahun depan. Urgensi pemimpin besar perlu didekati dengan rumusan kepemimpinan yang ia pedomani, salah satunya konsep transformational leadership. Dari buku berjudul Transformational Leadership: Konsep, Pendekatan, dan Implikasi pada Pembangunan (2020) yang diterbitkan oleh Bank Indonesia Institute dan dikurasi oleh Solikin M. Juhro selaku editor, saya mendapat wawasan menarik tentang pola kepemimpinan yang wajib dibaca oleh para pemangku kepentingan di lini mana pun, terutama pengambil kebijakan strategis.

Kepemimpinan transformasional adalah modal pembangunan nasional. (Foto: pexels/miguel a padrinan)


Kepemimpinan transformasional menjadi pilihan masuk akal sebab kita menghadapi tantangan global yang semakin kompleks akibat hadirnya revolusi teknologi dan perangkat digital. Satu kata kunci yang tak bisa kita nafikan adalah perubahan. Tantangan masa depan jelas membawa ciri kebaruan (novelty) sehingga harus kita sikapi dengan cara yang berbeda pula. Adaptasi adalah mutlak kalau kita tak ingin terkubur dalam kompetisi.

Pada halaman 7 disebutkan, 

“Dalam konteks organisasi, proses perubahan yang mendalam dan radikal akan mengarahkan organisasi ke arah baru dan membawanya ke tingkat efektivitas yang sama sekali berbeda.” 

Dalam tranformasi bukan hanya terkandung kemajuan, tetapi juga perubahan karakter dasar dengan konfigurasi atau struktur sebelumnya. Jika reversibilitas (kembali ke karakter sebelumnya) masih mungkin terjadi pada perubahan (change), tidak demikian dengan tranformasi (transformation).

Sembilan kompetensi

Lalu bagaimana cara mengenali pemimpin transformasional yang kita butuhkan dalam konteks pilpres pada tahun mendatang? Pada halaman 56-59 dielaborasi sembilan kompetensi transformational leadership yang didasarkan pada konsepsi Triple Focus

Pertama, breakthrough. Pemimpin harus mampu berpikir strategis, menciptakah insights, inspiratif, dan mengubah keinginan menjadi kenyataan tanpa mengontrol, memanipulasi, atau mendominasi orang-orang yang dipimpinnya.

Kedua, agility yaitu memiliki kemauan dan kemampuan untuk belajar dari pengalaman lalu menerapkan pelajaran tersebut pada situasi baru. Agility juga berarti berpikir kritis, paham kemampuan, dan bisa mengendalikan situasi sulit.

Pemimpin yang peduli dan berempati akan memajukan organisasi. (Foto: pixabay)


Ketiga, emotional intelligence. Pemimpin wajib memahami emosi diri dan berempati pada orang lain lalu meregulasi emosi tersebut untuk mencapai tujuan. Kasus yang menimpa Alvian tak perlu terjadi jika manajer punya kecerdasan ini. 

Dalam bukunya The Power of Giving Away Power, Matthew Barzun menafsirkan transformational leadership sebagai pemberdayaan. Bahwa perubahan dimulai dengan mengenali “kekuatan yang bisa kita ciptakan dengan cara melihat kekuatan yang ada pada orang lain”—lalu membuat lompatan untuk memimpin bersama-sama. 

Jika kekuasaan hanya diperam sendiri dan digunakan untuk merendahkan bawahan, runtuhlah semuanya. Namun, jika pemimpin membiarkan kekuasaan mengalir ke segenap kelompok yang dibawahi, maka organisasi akan tumbuh tanpa batas.

Keempat, social intelligence: kemampuan pemimpin untuk menyesuaikan diri di berbagai situasi sosial dan menjalin hubungan yang saling menguntungkan bagi semua kalangan. 

Kelima, influence others, yakni seorang pemimpin yang sukses bisa menjaga hubungan interpersonalnya dengan bawahan dan sanggup memengaruhinya untuk berkomitmen dan melakukan perintah. 

Keenam, communication. Tak perlu dijabarkan panjang lebar sebab komunikasi memungkinkan pesan, ide, pengetahuan bisa ditransimisikan kepada bawahan. 

Ketujuh, visionary; pemimpin mestilah visioner! Memahami visi perusahaan atau organisasi dan punya cara untuk mewujudkankannya secara luwes dengan menggerakkan bawahan.

Kedelapan, problem solving; di sini pemimpin harus cakap berkomunikasi dan menghargai semua pihak yang terlibat dalam masalah melalui pendekatan inovatif. 

Pemimpin transformasional bisa menginspirasi untuk mencari solusi berbasis kolaborasi. (Foto: pexels/fauxels)


Terakhir, decision making. Pemimpin transformasional mutlak bisa mengidentifikasi dan menentukan sebuah pilihan dari berbagai alternatif dengan mempertimbangkan value dan preferensi yang paling efektif.

Buku ini sangat menarik karena mendedah wawasan seputar kepemimpinan transformasional yang belum banyak diangkat di Indonesia. Meskipun ditulis oleh tim, penyajian ide dari bab ke bab terjalin kohesif secara runtut dan mudah dipahami karena kerapian editing dan selingan tabel yang memperkaya tulisan. Pilihan font pun tepat, membuat alur pembacaan terasa lancar dan nikmat tanpa kehilangan esensi setiap kalimat.

Selain tabel dan gambar yang menjadi pijakan teks, keunikan buku ini terletak pada Boks berisi cerita yang memperkuat teori. Sebanyak empat boks menghadirkan kisah nyata sehingga pembaca punya kedekatan emosi melalui story yang berbicara. Dikemas terpisah di akhir bab, Boks ini juga bisa menjadi jeda sejenak sebelum beralih ke pembahasan berikutnya.

Karena ditulis oleh kontributor dengan latar belakang relevan dan keilmuan mumpuni, buku ini bisa jadi rujukan siapa saja yang ingin tahu soal transformational leadership. Mahasiswa, pejabat publik, CEO, aktivis, dan bahkan pengelola yayasan pun cocok menikmati bacaan bergizi ini. Semakin nikmat karena buku bisa dibaca secara cuma-cuma di aplikasi iBI Library. Bisa dibuka di mana pun selagi tersedia koneksi internet, buku 289 halaman ini masih akan gurih hingga bertahun mendatang sebab fasih mengikuti napas zaman.

Pembangunan yang sudah berjalan perlu dilanjutkan dengan semangat kolaboratif dan energi pembaruan. Untuk mendorong tercapainya target dan kesinambungan visi, dibutuhkan pemimpin transformasional—yang bukan sekadar kompeten atau memamerkan kekuasaan, melainkan sosok dengan kepribadian kuat yang mewadahi kemajemukan dan mengakomodasi keberagaman potensi lokal sebagai modal vital pembangunan nasional. 

Kontribusi dalam memajukan ekonomi nasional bukan sekadar isu atau isapan jempol belaka, melainkan praktik yang harus diwujudkan dan didukung bersama-sama. 

Transformational leadership is mandatory when a country wishes to develop both its economy and social welfare thoroughly.  

Post a Comment

0 Comments